RANTAU 1 MUARA (Man Saara Ala Darbi Washala)
Jika sudah membaca novel Negeri 5 Menara yang pernah di filmkan dengan mantra yang sampai sekarang menjadi terkenal dikalangan anak muda, yaitu Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil), dan novel Ranah 3 Warna dengan mantra Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung), maka saya sarankan untuk membaca cerita selanjutnya di novel yang berjudul Rantau 1 Muara dengan mantra Man Saara Ala Darbi Washala (Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan).
Diawali dengan cerita Alif seorang pria lulusan nilai terbaik di Universitas UNPAD Bandung dan pernah mendapatkan beasiswa di beberapa negara. Namun kepintarannya tidak membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan, karena saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi dan reformasi.
Sampai pada akhirnya Alif merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan di Majalah Derap. Majalah yang selalu memberikan kebenaran dalam menyebarkan berita ke pembacanya. Berbagai tantangan sebagai wartawan dilalui Alif, mulai dari jumlah gaji yang tidak terlalu besar, sampai penolakan amplop dari berbagai narasumber.
Ketika Alif sudah mulai jatuh cinta dengan teman 1 kantornya, Alif mendapatkan beasiswa S2 di George Washington University, USA. Dengan cinta yang masih terpendam, akhirnya Alif meninggalkan perempuan itu.
Keberanian dan usaha yang gigih membuat Alif bisa menikahi gadis yang ditinggalkannya di Indonesia. Kemudian dibawalah sang istri ikut merantau ke Amerika. Kesamaan dalam bidang broadcasting membuat mereka kembali bekerja 1 profesi di kantor berita ABN.
Sampai pada suatu hari tanggal 11 September 2001 tragedipun terjadi, “America is under attack !”. Terjadi serangan bunuh diri yang dengan sengaja menabrakkan dua pesawat ke menara kembar World Trade Center di New York City yang kemudian kedua menara itu runtuh dalam kurun waktu dua jam. Lebih dari 6000 manusia menjadi korban, termasuk sahabat Alif yang sampai sekarang belum ditemukan.
Keinginan sang istri untuk kembali ke Indonesia membuat Alif harus rela meninggalkan negara yang sekarang dicintainya dan menolak panggilan kerja dari perusahaan EBC di London. Mereka berdua akhirnya memilih kembali ke Indonesia untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama.
Novel yang berjumlah 400 halaman ini saya baca dalam waktu kurang dari 2 minggu. Ini adalah waktu tercepat saya membaca novel. Dapat dipastikan penyebabnya adalah karena novel ini memang jalan ceritanya bagus. Apalagi ini adalah kisah nyata dari penulisnya sendiri, kurang lebih begitu ya mas Ahmad Fuadi hehehe. Saya tahu juga karena membaca biografinya beliau.
Di bawah ini adalah kalimat-kalimat bagus yang sudah saya stabilo untuk menjadi pegangan hidup, mari sundul gan hehehehe :
* Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.
* Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang.
* Setiap sesuatu ada waktu
* Berusahalah untuk mencapai sesuatu yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun.
* Siapa yang menanam, dia menuai.
* Memang impian bisa jadi nyata, tapi yang nyata bisa jadi hampa.
* Sesuatu itu bisa indah pada waktunya.
* Jangan takut pada manusia. Dunia itu rata, di atas langit, di bawah tanah.
* Menulis bisa dipelajari dan dilatih. Tapi karakter dan sifat itu tidak gampang berubah karena sudah tertanam sejak kecil.
* Di saat aku terdesak, tangan-Mu selalu datang menjangkauku.
* Melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada manusia lain.
* Mungkin dengan menjadi penulis dan wartawan, aku bisa merintis jalan untuk bisa awet muda dengan tulisan dan karya jurnalistik yang berguna dan abadi. Bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata.
* Bersama setiap kesulitan itu ada kemudahan.
* Find what you want to do and do it.
* Love what you are doing.
* Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari pun sepanjang hayat.
* Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahan, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
* Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain.
* Manusia yang bermanfaat adalah manusia terbaik.
* Jangan bermain-main dengan hati perempuan. Hatinya dalam dan sensitif, bisa menghanyutkan dan menenggelamkan. Tapi juga tangguh, bisa menguatkan, menumbuhkan dan menjelmakan mimpi-mimpi kita. Hati perempuan bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan apa yang pernah singgah di pedalaman hatinya.
* Jodoh itu harus dirasakan, bukan dipaksakan.
* Sebuah konsistensi mengalahkan ketidakmungkinan.
* Kalau mau memancing ikan besar, umpannya juga harus besar.
* Jangan menunda-nunda sesuatu yang penting, karena kalau hilang, bisa hilang selamanya.
* Lebih baik menyegerakan menikah jika sudah merasa waktunya, jangan ditunda lagi.
* Evaluasi dan memperbaiki diri, berusaha dan berdoa, memperluas pergaulan, meminta bantuan orang lain, dan menyatakan perasaan secara langsung.
* Kalau hati dua orang sudah sangat condong satu sama lain dan merasa sudah mampu untuk mandiri dan saling menghidupi, ya berarti sudah waktunya.
* Takan lari jodoh dikejar. Gunung memang tidak akan lari. Tapi jodoh? Dia punya kaki dan keinginan, dia bisa berlari-lari kesana kemari, ke mana dia suka. Bahkan dia bisa hilang, seperti lenyap di telan bumi. Atau dia jatuh ketangan orang lain.
* DIA selalu mencarikan jalan keluar dari tempat yang tidak terduga.
* Diamond is a girl's best friend.
* Dibalik setiap kesuksesan laki-laki, pasti ada sosok perempuan yang hebat.
* Perempuanlah yang menjadi madrasatul ula, sekolah pertama setiap anak manusia.
* Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh ibu yang mana. Kita juga tidak akan pernah bisa mendapatkan anak yang seperti apa. Tapi, kita masih mungkin memilih pasangan kita. Walau jodoh ditangan Tuhan, tapi kita diberi kesempatan untuk berupaya keras mendapat pasangan terbaik.
* Bukankah menikah untuk saling ikhlas menerima dan saling memaafkan. Bukan menuntut kesempurnaan tapi saling menyempurnakan ?
* Dunia perkawinan adalah dunia berbagi dan saling mengerti. Bukan dunia meminta dan berharap.



0 komentar :